Pemberantasan buta huruf
Juni 11, 2007
Indonesia termasuk dalam daftar 34 negara yang angka buta hurufnya tinggi. Global Monitoring Report menyebutkan Negara ini ada diperingkat ke tujuh setelah antara lain China, India dan Bangladesh. Ace Suryadi, Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah Departement Pendidikan Nasional menyatakan populasi penduduk yang buta huruf saat ini sekitar 15,4 juta orang.Angka tersebut merupakan 9% dari jumlah total penduduk Indonesia. Dua pertiga atau sekitar 66% diantaranya adalah perempuan yang berlatar belakang keluarga miskin atau tinggal di daerah terpencil.Sekitar 77% dari populasi buta huruf tersebut adalah orang dewasa berusia 45 tahun ke atas, sedangkan sisanya berusia antara 15 tahun dan 45 tahun.Departemen Pendidikan Nasional yang paling berkepentingan dengan persoalan itu menargetkan angak buta huruf bisa diturunkan hingga 50% atau menjadi 7,7 juta orang pada akhir 2009. target pancapaian itu didasarkan pada asumsi bahwa melalui berbagai program yang dijalankan setiap tahun bisa memelekkan sekitar 1,5 juta orang.Pada saat ini pemberantasan buta huruf difokuskan di sembilan provinsi yang angka buta hurufnya tinggi yakni Jatim, Jateng, Jabar, Sulsel, Papua, Kalbar, NTT dan Banten. Penuntasan buta huruf dilakukan secara terus menerus sejak tahun 1997. Namun sebenarnya upaya tersebut sudah dimulai sejak 50 tahunan lalu meski tidak seintesif sekarang. Beberapa faktor yang mendorong angka buta huruf di Indonesia tinggi antara lain tidak mengenal bangku sekolah karena alasan ekonomi dan kondisi geografis. Di samping itu, angka putus sekolah yang juga tinggi dan peserta program pemberantasan buta huruf tidak dipelihara secara baik sehingga kemampuannya merosot atau bahkan lenyap.Saat ini semua perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di aerah Jateng menyelenggarakan program dari pemerintah yaitu gerakan pemberantasan buta huruf. Salah satunya perguruan tinggi Unissula Semarang mendapat jatah untuk menurunkan 1000 mahasiswa untuk mensukseskan program tersebut. 350 dari Fakultas Ekonomi dan sisanya Fakultas lain, mengingat jumlah mahasiswa fakultas ekonomi lebih banyak dibanding fakultas lain sehingga fakultas ini mendapat jatah yang besar pula. Bagi mahasiswa yang ikut maka akan mendapat sertifikat, jas KKN, topi dan uang akomodasi sebesar 500 ribu. Semua anggaran tersebut dikasih secara cuma-cuma oleh pemerintah akan tetapi, tanggung jawab ini sangat berat untuk itu harus ada niat bdan keikhlasan dari masing-masing mahasiswa sendiri. Mari kita tuntaskan buta huruf di Indonesia agar menjadi masyarakat yang cerdas dan membangun negara. ( yusuf Suwandi Fakultas Ekonomi, 2004 ). .
Entry Filed under: Uncategorized. .
1 Comment Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
anggara | Agustus 30, 2007 at 11:44 pm
Bukan bermaksud menyudutkan sebagian pihak atau bagaimana, tapi yang terjadi pada waktu pelaksanaan kkn benar-benar terasa kisruh, para penanggung jawab kkn tidak muncul didesa kami, walau sekedar menjenguk, kondisi jalan memang buruk, tapi bukan alasan untuk tidak datang dalam mengemban tugas mulia ini, apa yang terjadi diatas sana?
1. Data warga belajar yang tidak valid (bahkan ada yang sudah meninggal masih tercatat sebagai WB).
2. Penyediaan ATK yang terkesan lamban dikirim dan periodik dan hanya dikirim dalam satu chekpoint (bahkan kami harus nalangin dulu sebagian buku2 tulis).
3. Tidak terdengar gaung korcam di desa kami sebagai jembatan kami dari desa ke kampus.
4. Pengiriman mahasiswa kkn yang formil dan sopan tidak terjadi lagi hari ini saat penarikan mahasiswa (tak ada koordinasi lagi dengan Bapak angkat kami didesa yaitu kades)
hanya dpl yang datang menenangkan kami, memberikan informasi terbaru tentang keadaan kampus dan perhatian selama kkn. dan kami merasa banyak tugas korcam yang dihandle dpl.
proses survey dalam pencarian WB baru membuat kami berbuat kesalahan terbesar, yaitu menjadi dekat dengan warga. konsekuensinya kami harus memberikan pembelajaran siang dan malam, bahkan terlepas dari standarisasi umur WB, karena memang sulit untuk menjaring kesadaran warga, perlahan kami bisa walau tidak sempurna.
keberadaan kami disana perlahan mendapat respon baik, dari anak-anak hingga tua renta yang akhirnya mau ikut belajar bersama.
kami merasa malu terhadap bapak lurah kami karena tidak ada (tembung) dalam menarik kami dari desa kami
kira2 sekitar 70% warga disana berat dalam melepas kami, semua haru dan nangis, mereka berharap untuk dapat belajar bersama lagi.
Unissula Insya Allah menjadi besar disana.
point2 masalah diatas hanya sebagian dari apa yang terjadi selama kegiatan kkn ini berlangsung, dan hanya saya hanya memaparkan masalah2 yang saya pikir dirasakan juga dari beberapa desa lain
terlepas dari semua, kami banyak mendapat pengalaman baik disana, walau mungkin kami anak kota yang manja yang meriah dengan hingar-bingar lighting yang sempurna